Nyeri Haid?

Ok, ini menambahkan dari cerita cewe gw yang tiap bulannya kena penyakit yang namanya dismenorrhea alias nyeri haid. Dan gw baru tau waktu gw liat seendiri cewe gw sampe segitunya, bahwa nyeri haid itu nggak main-main sakitnya.

Okay, ini diambil dari http://www.ipin4u.esmartstudent.com/haid.htm dan http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=63127 juga dari sini mengingat gw liat sendiri kalo darah yang keluar gila-gilaan banyaknya.

NYERI HAID

Beberapa tahun yang lalu, nyeri haid hanya dianggap sebagai penyakit psikosomatis. Akan tetapi, karena keterbukaan informasi dan pesatnya ilmu pengetahuan berkembang, nyeri haid mulai banyak dibahas. Banyak ahli yang telah menyumbangkan pikiran dan temuannya untuk mengatasi nyeri haid.

Dahulu, wanita yang menderita nyeri haid hanya bisa menyembunyikan rasa sakitnya tanpa mengetahui apa yang harus dilakukannya dan ke mana ia harus mengadu. Keadaan itu diperburuk oleh orang di sekitar mereka yang menganggap bahwa nyeri haid adalah rasa sakit yang wajar yang terlalu dibesar-besarkan dan dibuat-buat oleh wanita bahkan beberapa orang menganggap bahwa wanita yang menderita nyeri haid hanyalah wanita yang mencari perhatian atau kurang diperhatikan. Anggapan seperti ini sudah mulai hilang beberapa tahun yang lalu. Sekarang baru diketahui bahwa nyeri haid adalah kondisi medis yang nyata yang diderita wanita. Banyak metode yang telah dikembangkan oleh ahli di bidangnya yang bertujuan untuk mengatasi nyeri haid.

Dalam istilah medis, nyeri haid disebut dismenore. Nyeri itu ada yang ringan dan samar-samar, tetapi ada pula yang berat, bahkan beberapa wanita sampai pingsan karena tidak kuat menahannya. Separuh dari wanita terganggu oleh nyeri haid (lihat kingstone, Beryl. Mengatasi Nyeri Haid. Halaman 21).

Dahulu, dismenore disisihkan sebagai masalah psikologis atau aspek kewanitaan yang tidak dapat dihindari, tetapi sekarang dokter mengetahui bahwa dismenore merupakan kondisi medis yang nyata. Meskipun demikian, penyebabnya yang pasti, masih kurang dimengerti.

Penyebab nyeri haid bisa bermacam-macam, bisa karena suatu proses penyakit (misalnya radang panggul), endometriosis, tumor atau kelainan letak uterus, selaput dara atau vagina tidak berlubang, dan stres atau kecemasan yang berlebihan. Akan tetapi, penyebab yang tersering nyeri haid diduga karena terjadinya ketidakseimbangan hormonal dan tidak ada hubungan dengan organ reproduksi.

Nyeri haid dapat digolongkan berdasarkan jenis nyeri dan ada tidaknya kelainan yang dapat diamati. Berdasarkan jenis nyeri, nyeri haid dapat dibagi menjadi, dismenore spasmodik dan dismenore kongestif. Sedangkan berdasarkan ada tidaknya kelainan atau sebab yang dapat diamati, nyeri haid dapat dibagi menjadi, dismenore primer dan dismenore sekunder.

Berdasarkan jenis nyeri, nyeri haid dapat dibagi menjadi, dismenore spasmodik dan dismenore kongestif.

Nyeri spasmodik terasa di bagian bawah perut dan berawal sebelum masa haid atau segera setelah masa haid mulai. Banyak wanita terpaksa harus berbaring karena terlalu menderita nyeri itu sehingga ia tidak dapat mengerjakan apa pun. Ada di antara mereka yang pingsan, merasa sangat mual, bahkan ada yang benar-benar muntah. Kebanyakan penderitanya adalah wanita muda walaupun dijumpai pula pada kalangan yang berusia 40 tahun ke atas. Dismenore spasmodik dapat diobati atau paling tidak dikurangi dengan lahirnya bayi pertama walaupun banyak pula wanita yang tidak mengalami hal seperti itu.

Penderita dismenore kongestif biasanya akan tahu sejak berhari-hari sebelumnya bahwa masa haidnya akan segera tiba. Dia mungkin akan mengalami pegal, sakit pada buah dada, perut kembung tidak menentu, beha terasa terlalu ketat, sakit kepala, sakit punggung, pegal pada paha, merasa lelah atau sulit dipahami, mudah tersinggung, kehilangan keseimbangan, menjadi ceroboh, terganggu tidur, atau muncul memar di paha dan lengan atas. Semua itu merupakan simptom pegal menyiksa yang berlangsung antara 2 dan 3 hari sampai kurang dari 2 minggu. Proses menstruasi mungkin tidak terlalu menimbulkan nyeri jika sudah berlangsung. Bahkan setelah hari pertama masa haid, orang yang menderita dismenore kongestif akan merasa lebih baik.

Berdasarkan ada tidaknya kelainan atau sebab yang dapat diamati, nyeri haid dapat dibagi menjadi, dismenore primer dan dismenore sekunder.

Dismenore primer sering dimulai pada waktu wanita mendapatkan haid pertama dan sering dibarengi rasa mual, muntah, dan diare. Gadis dan wanita muda dapat diserang nyeri haid primer. Dinamakan dismenore primer karena rasa nyeri timbul tanpa ada sebab yang dapat dikenali. Nyeri haid primer hampir selalu hilang sesudah wanita itu melahirkan anak pertama, sehingga dahulu diperkirakan bahwa rahim yang agak kecil dari wanita yang belum pernah melahirkan menjadi penyebabnya, tetapi belum pernah ada bukti dari teori itu.

Nyeri haid yang disebabkan karena kelainan yang jelas dinamakan dismenore sekunder. Nyeri haid yang baru timbul 1 tahun atau lebih sesudah haid pertama dapat dengan mudah ditemukan penyebabnya melalui pemeriksaan yang sederhana. Jika pada usia 40 tahun ke atas timbul gejala nyeri haid yang tidak pernah dialami, penting sekali baginya untuk memeriksakan diri. Nyeri haid sekunder dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:

  1. Rahim yang terbalik sehingga membuat darah haid tidak mudah dikeluarkan, tetapi penyebab itu lebih jarang daripada yang diperkirakan sebelumnya;
  2. ]Benjolan besar atau kecil di rahim dapat menimbulkan keluhan perdarahan yang banyak atau sering disertai gumpalan darah;
  3. Peradangan selaput lendir rahim. Hal itu biasanya hanya terjadi-dan jarang terjadi-sesudah persalinan atau keguguran. Peradangan dapat pula terjadi akibat penyakit kelamin yang dilalaikan;
  4. Pemakaian spiral;
  5. Endometriosis. Pertumbuhan jaringan lapisan rahim di tempat lain di dalam ruang panggul;
  6. Fibroid atau tumor;
  7. Infeksi pelvis.

Dianjurkan untuk sedini mungkin memeriksakan diri ketika nyeri haid terjadi. Jangan sampai mengabaikan gejala-gejala tersebut. Siapa tahu, gejala yang tadinya ringan merupakan permulaan dari penyakit yang serius. Misalnya, penyakit endometriosis yang umumnya berkaitan dengan kesulitan memiliki keturunan atau infertilitas.

Hampir setiap perempuan yang telah menstruasi merasakan nyeri haid. Yang membedakan antara satu perempuan dengan wanita lainnya adalah derajat nyeri haidnya.

Nyeri haid adalah salah satu di antara empat kelainan haid, yaitu ketidakteraturan daur atau siklus, perdarahan haid yang lama lebih dari 10 hari, jumlah darah yang banyak disertai gumpalan dan nyeri haid. Umumnya nyeri haid tidak bersifat tunggal, namun berkombinasi dengan kelainan tersebut.

Nyeri haid harus dibedakan dengan nyeri atau ketidaknyamanan pada pertengahan daur haid. Ketidaknyamanan tersebut biasanya terasa sebagai mulas di perut bawah dan kadang-kadang disertai tetesan darah keluar dari liang vagina, hal ini biasanya menunjukkan terjadinya proses ovulasi atau kesuburan. Selain itu, sering perempuan mengalami ketidaknyamanan atau adanya berbagai keluhan, seperti payudara yang tegang, perut kembung, sakit kepala, pusing yang terasa 2-7 hari bahkan lebih menjelang haid. Keluhan-keluhan itu dikenal sebagai gejala atau sindroma pra haid.

Perdarahan haid banyak ini termasuk dalam kelainan haid yang angkanya meningkat pada perempuan-perempuan yang memiliki faktor-faktor, menunda kehamilan, memiliki satu anak, tidak menyusui atau menyusui bayinya dalam waktu singkat, melakukan sterilisasi.

Seperti telah dikemukakan terdahulu, setiap perempuan yang telah mengalami haid, pasti mengalami salah satu atau lebih gejala nyeri haid, daur haid tidak teratur, darah haid banyak/terlalu sedikit, darah keluar berlebihan atau kurang. Rasa nyeri ringan itu biasa. Lama haid yang normal tiga sampai dengan tujuh hari, jumlah darah biasa (tanpa gumpalan), daurnya sekitar 21-35 hari.

Jika darah haid banyak dan bergumpal-gumpal apalagi jika disertai rasa nyeri yang sangat, daur haid tidak teratur atau lama, itu berarti terjadi kelainan haid para seorang perempuan.

Perdarahan haid yang banyak ini dapat terjadi hampir pada seluruh fase kehidupan perempuan yang telah haid yaitu dapat terjadi pada masa remaja (sampai usia 19 tahun) atau masa reproduksi (usia 20-40 tahun), dan masa menjelang menopause (usia 40-50 tahun). Golongan yang paling banyak mengalami perdarahan darah haid berlebih adalah remaja dan masa menjelang menopause. Bilamana setelah lebih dari satu tahun tidak haid, kemudian terjadi keluar darah lagi dari jalan lahir, itu bukan haid tapi perdarahan masa menopause, yang umumnya berkaitan dengan proses awal atau telah terjadi keganasan dalam alat-alat reproduksi, seperti pada rahim, indung telur, saluran telur, leher rahim dan vagina.

Secara garis besar, perdarahan haid yang banyak disebabkan adanya kelainan pada alat reproduksi seperti tumor, infeksi. Selain itu bisa karena terjadi kelainan bawaan atau kelainan fungsi, khususnya hormon yang berinteraksi dalam proses haid, atau adanya gangguan proses pembekuan darah, pada mana darah sukar/tidak mudah dapat membeku. Pada golongan yang disebabkan kelainan fungsi dibedakan tiga periode yaitu: (1). Perdarahan haid banyak pada masa remaja. (2). Menjelang menopause, sebagian terbesar perdarahan ini bersifat tidak subur, artinya tidak didahului keluarnya telur menjelang haid, disebut perdarahan tanpa telur (anovulasi) walaupun dapat juga terjadi pada beberapa kasus disertai dengan pengeluaran telur setelah haid. (3). Masa reproduksi, perdarahan haid yang banyak ini umumnya disertai dengan keluarnya sel telur sebelum haid, disebut perdarahan ovulasi. Kedua keadaan tersebut, keadaan anovulasi dan ovulasi, memiliki perbedaan dalam penanganannya, karena terkait dengan ineraksi hormon reproduksi yang terjadi pun relatif berbeda.

Lebih dari 80 cc

Perdarahan disebut banyak dalam ilmu kedokteran bilamana melebihi 80 cc setiap lama daur haid dan lamanya keluar haid lebih dari 7 hari. Namun demikian, secara praktis sangat sulit menentukan jumlah haid yang keluar, sebagai patokan sering dipakai jumlah pembalut haid yang dipergunakan. Umumnya darah haid disebut banyak bila digunakan 2 pembalut yang disatukan dan darah masih tembus ke dalam ke dua lapis tebal tersebut dengan penggantian pembalut dalam sehari antara 4 – 5 kali. Berdasarkan penelitian, hampir dua pertiga dari perempuan yang mengalami darah haid lebih dari 80 cc, lebih-lebih yang terjadinya berulang kali mengalami gejala kurang darah (kadar sel darah merah menurun).

Perdarahan haid banyak ini termasuk dalam kelainan haid yang angkanya meningkat pada perempuan-perempaun yang memiliki faktor-faktor : menunda kehamilan, memiliki satu anak, tidak menyusui atau menyusui bayinya dalam waktu singkat, melakukan sterilisasi.

Penyebab

Penyebab sebenarnya dari kejadian darah haid yang banyak ini masih belum jelas. Namun demkian terdapat tiga kemungkinan utama sebagai penyebabnya, yaitu adanya penyakit atau kelainan di daerah panggul, penyakit-penyait yang bersifat menyebar ke seluruh tubuh atau sistemik, dan kelainan proses pembekuan darah. Bagaimana mekanismenya dari kelainan tersebut sehingga menyebabkan terjadinya darah haid yang banyak belum diketahui.

Di antara kelainan atau penyakit dalam rongga panggul yang banyak menyebabkan perdarahan banyak adalah miom (tumor otot rahim), endometriosis, polip selaput lendir rahim, indung telur polikistik, dampak penggunaan IUD dan keganasan rahim. Sedangkan yang berasal dari kelainan pembekuan darah tidak hanya berasal dari kerusakan atau kekurangan komponen-komponen darah, namun juga bisa terjadi pada kelainan kelenjar gondok, penyakit hati menahun, penyakit ginjal menahun dan penyakit lupus.

Dampak

Umumnya karena perdarahan banyak dan berulang, tubuh kehilangan banyak darah dan komponen-komponennya, sedangkan pembentukan sel-sel komponen berjalan agak lambat sehingga terjadi penyakit kurang darah, tubuh lemah, lemas, daya imun atau kekebalan tubuh menurun. Akibatnya perempuan itu mudah diserang penyakit khususnya yang disebabkan bakteri/virus. Selain itu, yang paling perlu mendapat perhatian adalah berkembangnya awal dari suatu proses keganasan rahim.

Pengobatan

Sebelum pengobatan biasanya dilakukan berbagai pemeriksaan atau tes untuk mengetahui apa penyebab sebenarnya. Pemeriksaan-pemeriksaan cukup kompleks, mulai peralatan medis yang sederhana sampai yang canggih seperti penggunaan USG melalui vagina, teropong uterus atau pun dengan laparoskopi dan tidak jarang dilakukan melalui proses yang dikenal dengan scan atau MRI yang cukup canggih dan memerlukan biaya tinggi. Setelah didapatkan penyebabnya, umumnya dihilangkan penyebab tersebut baik melalui pengobatan konvensional (suntikan, obat yang diminum) ataupun melalui tindakan operasi.

Apabila sulit menentukan penyebabnya dari perdarahan banyak ini biasanya dipertimbangkan apakah perdarahan banyak ini terjadi pada usia remaja, masa reproduksi aktif atau menjelang menopause. Ke dalam golongan perdarahan ini diupayakan untuk menekan terjadinya pembengkakkan kelenjar rahim. melalui pemberian hormon yang digabung dengan obat-obat yang memicu pembekuan darah serta obat-obat yang mengadakan konstraksi atau penjepitan pembuluh darah otot rahim. Namun demikian, apabila terjadi kegagalan atau ketidakberhasilan dengan sediaan hormon tersebut, dipikirkan melakukan tindakan kuretase khususnya pada perempuan golongan menjelang menopause, karena pada kurun usia tersebut risiko terjadinya awal keganasan rahim sangat tinggi. Melalui tindakan kuret selain menghentikan darah yang keluar juga untuk menentukan diagnosis penyebab perdarahan yang banyak tersebut. Bilamana dengan kuretase masih belum berhasil mengatasi perdarahan biasanya dianjurkan untuk dilakukan pengangkatan rahim.

Yang paling menimbulkan masalah dalam pengobatan perdarahan haid banyak ini adalah pada golongan remaja yang umumnya belum menikah atau belum punya anak. Apabila penggunaan kombinasi hormon dengan obat-obat penghenti perdarahan lainnya masih juga belum berhasil, saat ini sudah ditemukan suatu cara untuk melakukan sejenis kuret atau kerokan kelenjar yang membengkak tersebut melalui alat yang dikenal sebagai histeroskopi, alat ini memiliki gagang kuret yang sangat kecil sehingga dapat menembus lubang selaput darah dari remaja tersebut tanpa harus merusak selaput daranya sendiri.

Umumnya hasil kuret diperiksa melalui pemeriksaan sel. Jika didapatkan awal proses keganasan, pengobatan perdarahan tersebut harus dilanjutkan dengan tindakan-tindakan lain apakah tindakan operatif atau radiasi atau penggunaan kemoterapi untuk mengurangi/menghilangkan proses keganasan yang terjadi. Sayangnya dala kasus keganasan ini, hasil pengobatan tidak dapat atau relatif/ jarang sekali dapat mengembalikan fungsi reproduksi seperti semula. Kalaupun teratasi keganasannya, tetap akan meninggalkan masalah dalam sistem reproduksi, khususnya bagi remaja saat memiliki anak kelak. Untuk masa reproduksi berdampak pada gangguan-gangguan aktivitas harian kehidupan, sedangkan pada usia yang agak lanjut akan meningkatkan kemungkian banyaknya komplikasi lain yang muncul kemudian.

Jadi, waspadailah jika darah haid banyak. Segera hubungi dokter Anda jika terjadi gejala kelainan haid. (Prof. DR. Dr. Achmad Biben, Sp.O.G., K-FER/Guru Besar Tetap Fak. Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung)***

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: